PENUNJANG PELABUHAN SAMUDERA KUALA ENOK

Pemkab Inhil Siapkan Lahan 5 Ribu Hektar

25 February 2013, 14:38
0 komentar | Dibaca: 434
Bupati Indragiri Hilir, Indra Muchlis Adnan (kiri) (Foto: HaluanMedia.com)

TEMBILAHAN, HALUAN MEDIA - Terwujudnya pelabuhan Samudera Kuala Enok sebagai kawasan industri kelapa sawit di Provinsi Riau bagian selatan, menjadi salah satu impian H Indra Muchlis Adnan sebelum mengakhiri masa jabatannya sebagai Bupati Indragiri Hilir dua periode, September 2013 nanti. Untuk merealisasikan program Pemerintah Pusat itu, Pemkab Inhil telah menyiapkan lahan seluas 5 ribu hektare guna menunjang terwujudnya rencana tersebut.

Indra menegaskan, Pemkab Inhil siap mendukung sinkronisasi pengembangan kawasan industri di Kecamatan Enok. Selain mempersiapkan lahan seluas 5 ribu hektare, Pemkab juga telah melakukan pekerjaan Amdal serta membentuk aturan yang mendukung terlaksananya kawasan industri hilir itu, serta bekerja sama dengan Pemprov Riau melakukan studi kelayakan.

Bahkan, kawasan Industri Hilir Kelapa Sawit (IHKS) Kuala Enok, sudah dimasukkan ke dalam draf revisi rencana tata ruang wilayah Inhil dan Riau. Adapun industri yang dimaksud terdiri dari kapling industri, komersial, fasilitas umum dan kawasan pengolahan limbah.

Siapkan “Semua kawasan itu memiliki alokasi lahan yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya,” papar Indra, saat menghadiri Rapat Fasilitasi Pemda Tentang Pengembangan Kawasan Industri, di Hotel Cemara, Menteng, Jakarta, yang digelar Direktorat Jendral Pemerintahan Umum Kemendagri, baru-baru ini.Selain itu, pada kawasan itu juga telah dilakukan identifikasi lahan seluas 3 ribu hektare dari rencana seluas 5.439 hektare di Kecamatan Tanah Merah dan Sungai Batang. Kawasan itu nantinya akan menjadi akses pengelolaan cluster sawit yang berasal dari Kabupaten Kuansing, Inhu, Pelalawawan dan Inhil.

Saat ini, di kawasan itu telah dibangun dermaga sepanjang 80 meter yang cukup strategis karena berada di depan Selat Berhala, sehingga kapal berbobot 35 ribu ton dapat bersandar.

“Pelabuhan ini berada di Muara Sungai Kuala Enok, sehingga memiliki akses ke Selat Malaka melalui alur pelayaran Selat Berhala. Terwujudnya kawasan ini diharapkan mampu memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Riau, khususnya Inhil,” terang Indra.

Mantan Kepala Bappeda yang saat ini menjabat Kadisdik Inhil, H Fauzar MP, mengatakan, pihaknya terus menggesa percepatan pembangunan sarana dan prasarana penunjang di sekitar pelabuhan Samudara Kuala Enok, termasuk berkoordinasi dengan PT Pelindo.

“Kita juga terus mengupayakan kerja sama dengan Pemprov Riau dan Pemerintah Pusat agar apa yang direncakan dapat terealisasi secepatnya. Sehingga multi efek dengan beroperasinya pelabuhan Kuala Enok itu juga dapat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat Inhil,” kata Fauzar.

Kepala Pelindo Cabang Tembilahan, Syahri Ramadhan mengatakan, saat ini sejumlah perusahaan besar menyatakan kesiapan untuk melakukan investasi di pelabuhan Kuala Enok, apabila akses jalan dan jembatan menuju pelabuhan itu memadai untuk dilewati armada perusahaan. Terkait masalah pelabuhan, PT Pelindo menjamin sudah dapat digunakan perusahaan yang akan berinvestasi di pelabuhan kluster sawit.

Adapun sejumlah perusahaan yang telah menyatakan kesiapan berinvestasi di pelabuhan Samudra Kuala Enok, kata Syahri, di antaranya Ipo Mas, Sinar Mas Group, Global Sirkah Mandiri dan Integra Infrastruktur untuk ekspor Cruide Palm Oil (CPO) serta PT Poninar (anak perusahaan Astra) untuk ekspor bahan baku karet dengan kontainer.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setdakab Inhil, Syafrinal Heddy, menjelaskan, terkait akses jalanmenuju pelabuhan Kuala Enok, hal itu merupakan tanggungjawab Pemprov Riau dan Pemerintah Pusat.Sejauh ini, Pemkab Inhil telah berupaya melakukan pembebesan lahan di sekitar pelabuhan yang telah diindentifikasi sekitar 1.000 hektare dari 5.000 hektare yang ditargetkan. Lahan yang dibebaskan itu nantinya diperuntukan untuk pembangunan sarana dan prasarana penunjang di sekitar pelabuhan Samudara Kuala Enok yang akan digunakan oleh perusahaan.

“Sudah ada sekitar 1.000 hektare yang telah diindetifikasi, dan sejauh ini kita terus berupaya melakukan pendekatan dengan pemilik lahan yang nantinya akan diganti rugi. Target kita memang 5 ribu hektare, karena di areal itu nantinya juga dibangun perumahan bagi para pekerja,” kata Heddy.

BACA JUGA :

No related posts.