PILIH MENDAFTAR HARI TERAKHIR

Persaingan Posisi Caleg Ketat

22 April 2013, 10:55
0 komentar | Dibaca: 1,733
caleg sumbar
Persaingan Calon Legislatif (Caleg) Di Sumatera Barat (Foto: HaluanMedia.com)

Persaingan posisi nomor urut caleg pada sejumlah parpol peserta pemilu berlangsung ketat. Ini menjadi salah satu penyebab parpol itu memilih hari terakhir mendaftarkan calegnya ke KPU Sumbar.

PADANG, HALUAN MEDIA — Hari ini, Senin (22/4), meru­pa­kan hari terakhir pen­daf­taran bakal calon anggota legislatif untuk DPRD Sum­bar dan calon anggota DPD RI di KPU Sumbar.

Sampai Minggu (21/4) sore, dari 12 partai politik (parpol) yang dinyatakan lolos sebagai peserta pemilu secara nasional, baru 4 parpol saja yang mendaftar. Yakni PKS, Partai Nasdem, PAN, dan Partai Hanura.

Sedangkan Partai Gol­kar, Demokrat, Gerindra, PPP, Partai Bulan Bintang (PBB), PKB, PDI-P, dan PKPI, belum lagi menyam­bangi kantor penyelenggara pe­milu itu. Perebutan posisi ca­leg dan masalah kuota pe­rempuan, tampaknya jadi pe­nyebab utama kenapa me­reka memilih hari ter­akhir untuk mendaftar. Ke­ti­ka ditanya, jawabannya cu­­kup elegan, yakni masih per­­lu menunggu keputusan DPP.

Perebutan posisi caleg, memang sangat me­mung­kinkan menjadi penyebab tertundanya pendaftaran ke KPU. Apalagi untuk partai sekelas Golkar, Demokrat, PPP, dan Gerindra. Ja­ngankan untuk mempe­rebutkan nomor urut, pere­butan untuk menjadi ba­c­a­leg saja sudah begitu keras. Bahkan tak jarang harus mendepak kader ke

daerah pemilihan lain, seperti di Golkar. Musmaizer Dt Gamuak didepak ke Dapil Agam dan Bukit­tinggi. Karena tak mau, ia pun mencaleg di Partai Hanura. Ini bisa saja terjadi, mengingat Ketua DPD Partai Golkar Hendra Irwan Rahim, satu dapil dengan Musmaizer.

“Jika ditempatkan Dapil III, saya jelas tak berasal dari daerah itu, dan tak menguasai wilayah itu. Makanya pilihan baik itu maju bersama Hanura, dan mundur dari Golkar,” katanya, di KPU Sumbar kemarin.

Kejadian serupa bisa juga terjadi di partai lain, namun tak sampai loncat partai. Hal itu diakui oleh Ketua DPD Hanura Sumbar HM Tauhid. “Riak-riak dalam pene­tapan caleg itu biasa. Apalagi kalau kader yang mau maju cukup ba­nyak. Tapi di partai kami, itu sudah dapat diselesaikan, dan kami mendaftar ke KPU,” katanya.

Sementara Zulkifli Jailani dari Partai Gerindra mengatakan, untuk tingkat provinsi, proses caleg tidak ada masalah. Kalaupun terjadi perbedaan, itu dapat diselesaikan dengan baik di tingkat internal. “Kalau provinsi tak masalah, tapi kabupaten/kota bisa jadi ada seperti itu. Karena kader kita banyak,” katanya.

Sementara Sekretaris DPW PBB Sumbar Zaldi Heriwan menu­turkan, partainya sudah meren­canakan pendaftaran pada hari Senin (22/4). Soal pendaftaran ke KPU, menurutnya belum terlam­bat, karena masih dalam jadwal yang ditetapkan oleh KPU.

“Bahkan kami cukup cepat dalam mempersiapkannya diban­ding partai lain. Karena ditetapkan oleh KPU RI menjadi peserta pemilu, melalui proses panjang,” ujarnya.

Ketua DPW PAN Asli Chaidir mengatakan, untuk mempersingkat proses penetapan caleg yang akan didaftarkan ke KPU, pihaknya hanya menerima 75 orang saja pada pendaftaran awal. Artinya hanya dilebihkan 10 persen dari jumlah yang harus disetor ke KPU.

“Dari 65 yang kami bawa, 27 orang diantaranya merupapkan caleg perempuan yang berkualitas. Kemudian dari jumlah 65 itu sekitar 20 persen berasal dari tokoh di luar PAN, 20 persen lagi merupakan tokoh dan akademisi. Target kita sendiri adalah meraih 20 persen kursi di DPRD Sumbar,” katanya.

Sementara Sekretaris DPD Hanura Sumbar Marlis menga­takan, proses pengumpulan persyaratan administrasi sampai dibawa ke KPU Sumbar ternyata bukan proses yang mudah. Hanura  mendaftarkan calegnya di dua menit terakhir sebelum pukul 16.00 WIB, yang meru­pakan batas akhir pendaftaran.

Ketua DPD Hanura Sumbar M Tauhid pun mengakui, bahwa cukup sulit memenuhi keputusan KPU untuk mendaftarkan calonnya hanya 100 persen. Hal ini menjadi salah satu alasan pemilihan waktu untuk mendaftar.

M Tauhid juga mengatakan, Hanura membawa 24 orang caleg perempuan kali ini. Jumlah ini pun sudah melebihi angka 30 persen dari kewajiban partai untuk jumlah caleg perempuannya.

“Hal ini merupakan salah satu bentuk emansipasi perempuan dari Partai Hanura. Diharapkan perem­puan ini bisa menyuarakan aspirasi dari perempuan juga nantinya. Saat ini saja ada seorang caleg perempuan kita dari kalangan akademisi, yang merupakan mantan Wakil Ketua Partai Demokrasi Pembaharuan di Provinsi Bali,” jelasnya.

Untuk pendaftaran caleg ini, pihak KPU membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk memeriksa ada atau tidaknya persyaratan. Menurut Kabag Teknis, Hukum dan HumasKPU SumbarAgus Catur Rianto, hal ini berlaku jika tidak terdapat kekurangan dalam menye­rah­kan berkas pendaftaran. Jika terjadi kekurangan bisa memakan waktu yang lebih lama lagi.

Katanya, pihak KPU Sumbar sudah menambah jumlah meja pendaftaran pada hari ini. Selain itu, juga akan digunakan nomor antrean bagi partai yang ingin mendaftar. Saat ini pun sudah dibatasi, orang yang boleh mengikuti calon ke meja pendaftaran hanya lima orang saja.

DPD sepi peminat

Realitas politik juga cukup mengejutkan untuk calon DPD RI. Sampai Minggu (21/4), baru sebelas yang mendaftar ke KPU Sumbar. Padahal pada Pemilu 2009 lalu, pesertanya mencapai 43 orang.

Mereka yang sepuluh orang itu yakni Young Hendri, Emma Yohan­na, Andi Harmainy Rusdi, Mardinas M Syair, Mizwar Abbas, Jeffrie Geovanie, Afrizalti, HM Yamin Ferriyanto Tara, Sani Mariko, Herman Daniel dan  Leonardy Harmainy.

Dari sebelas orang yang sudah hadir ini, ada satu orang lagi yang menunda pendaftarannya yaitu Zulkarnain Kamsya. Zulkarnain merupakan, tokoh dari Lubuk Minturun dan terpaksa menunda pendaftaran, karena ada persya­ratan yang kurang.

Dua orang dari sebelas pendaf­tar ini, juga terdapat dua orang perempuan. Yaitu Emma Yohanna dan Afrizalti. Emma sendiri sudah lebih dulu duduk di DPD, sementara Afrizalti baru pertama kali menca­l­on­kan diri dengan latar belakang sebagai Kepala Badan Pem­ber­dayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Sumbar.

Jika Afrizalti datang men­daftarkan diri ke KPU Sumbar karena adanya desakan dari orang sekitar, beda lagi dengan HM Yamin Ferriyanto Tara yang akrab disapa Bonny Tara yang datang karena keinginan sendiri.

Bonny menceritakan, awal mu­la­nya dirinya ingin maju ke DPR RI dari daerah Sumbar I melalui Partai Golkar. Namun keinginan tersebut belakangan berubah dan beralih ke DPD.

“Semua keluarga sendiri ber­keinginan maju ke DPR RI. Papa­pun masih ingin tetap berkarir di DPR RI. Rencananya juga akan maju dari Sumbar I. Jadi saya bilang ke Papa, saya ingin maju ke DPD dan direstui,” jelasnya.

Sejak 3 bulan lalu, mulailah Bonny Tara mengumpulkan duku­ngan. Dan ia berhasil mengantongi 3.576 dukungan. Dirinya sendiri merasa yakin bisa melaju ke DPD dan tidak gentar dengan calon lainnya untuk memperebutkan empat kursi dari Sumbar. (h/cw-eni)

BACA JUGA :

No related posts.