MEMAJUKAN DAERAH

Perluasan Kota Payakumbuh

28 February 2013, 11:49
0 komentar | Dibaca: 1,043
Kota Payakumbuh (Foto: HaluanMedia.com)

HALUAN MEDIA – Sebelum tahun 1970, Payakumbuh adalah bahagian dari Kabupaten Lima­ Pu­luh Kota dan sekaligus ibu kota kabupaten ini. Kalau dilihat lebih jauh lagi ke belakang, maka Kabupaten Lima Puluh Kota merupakan salah satu dari tiga kawasan yang paling tua di Ranah Minangkabau atau yang dikenal dengan istilah Luhak Nan Tigo yang meliputi Tanah Datar, Agam dan Lima Puluh Kota. Ini me­ngin­dikasikan bahwa sejak da­hulunya Payakumbuh sudah merupakah salah dari tiga pusat perkembangan masya­rakat Minangkabau.

Sesuai dengan perkemba­ngan zaman dan dinamika pembangunan, maka terjadi perubahan-perubahan dalam penataan wilayah, khususnya secara administratif. Kabu­paten Tanah Datar yang sekarang, dahulunya meliputi Kota Padang Panjang, Kota Sawahlunto, Kabupaten Sijun­jung, dan Kabupaten Dhar­masraya. Kabupaten Agam meliputi Kota Bukittingi. Kabupaten Lima Puluh Kota meliputi Kota Payakumbuh dan Kabupaten Kampar (Pro­vinsi Riau). Kabupaten Pa­dang Pariaman meliputi Kota Padang, Kota Pariaman dan Kabupaten Kepulauan Menta­wai. Sementara Kabupaten Solok meliputi Kota Solok dan Kabupaten Solok Selatan. Kabupaten Pesisir Selatan meliputi Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh (Pro­vinsi Jambi) dan Kabupaten Pasaman meliputi Kabupaten Pasaman saat ini serta Kabu­paten Pasaman Barat.

Perubahan wilayah admi­nistrasi yang dipaparkan di atas tidak hanya di Sumatera Barat tetapi juga di seluruh Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke dan dari Talaud sampai ke Pulau Rote. Bahkan pemerintah pusat menga­komodasi aspirasi masyarakat mengenai pemekaran wilayah ini melalui seperangkat perun­dang-undangan, sebagai salah satu langkah dalam me­ningkatkan daya saing bangsa dalam era globalisasi.

Sejarah Singkat Kota Payakumbuh

Salah satu fungsi kota adalah pusat pelayanan bagi daerah belakangnya (hin­terland). Semakin maju suatu kota akan semakin cepat pula perkembangan daerah seki­tarnya, dan sema­kin luas pula daerah pengaruh (span of influence) nya. Daerah Bogor, Tangerang, Bekasi, Depok dan Cianjur berkem­bang pesat karena pesatnya perkemba­ngan Kota Jakarta.

Begitu pula Kota Batam dan negara bahagian Johor di Malaysia, berkembang pesat karena perkembangan Kota Singapura yang sangat cepat. Nah perkembangan Kota Payakumbuh tentu juga akan memacu perkembangan wila­yah sekitarnya, khususnya Kabupaten Lima Puluh Kota, Agam, Tanah Datar dan Pasa­man serta Provinsi Sumatera Barat pada umumnya.

Payakumbuh sejak zaman sebelum kemerdekaan telah menjadi pusat pelayanan pemerintahan, perdagangan, pendidikan dan kegiatan sosial budaya lainnya bagi Luhak Limo Puluah khususnya.

Pada zaman pemerintahan Belanda, Payakumbuh adalah tempat kedudukan asisten residen yang menguasai wila­yah Luhak Limo Puluah. Pada zaman pemerintahan Jepang, Payakumbuh menjadi pusat kedudukan pemerintah Luak Limo Puluah. Selama periode tersebut Payakumbuh telah menjadi salah satu pusat pelayanan pendidikan penting di Sumatera Barat, baik untuk tingkat menengah ke bawah maupun perguruan tinggi.

Pada tahun 1954 di Paya­kum­buh didirikan perguruan tinggi pertanian dan meru­pakan perguruan tinggi negeri yang tertua di luar Jawa. PTN inilah yang kemudian berkem­bang menjadi Universitas Andalas. Tahun 1960-an berdiri pula salah satu fakul­tas dari IAIN Imam Bonjol. Sebagai pusat pelayanan, Payakumbuh dulu juga mem­pu­nyai lapangan terbang, yaitu Lapangan Terbang Piobang.

Berdasarkan Undang-un­dang Nomor 8 Tahun 1956 Payakumbuh ditetapkan seba­gai kota kecil dan selanjutnya dengan peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 1970 tanggal 17 Desember 1970, Kota Payakumbuh ditetapkan sebagai daerah dengan wilayah pemerintahan sendiri.

Pada tahun 1970, Paya­kumbuh adalah kota yang paling luas di Sumatera Barat yaitu 80,1 km2, jauh lebih luas dari kota Padang yang hanya 33,0 km2 (West Suma­tera Facts and Figure 1971 and 2010, data diolah). Luas Kota Payakumbuh pada waktu itu adalah lebih dari 2,4 kali luas Kota Padang. Akan tetapi kemudian Kota Padang diper­luas menjadi 694,96 km2 dan sekaligus menjadi kota yang terluas di Sumatera Barat.

Kota Sawahlunto yang pada tahun 1970 merupakan kota yang paling kecil dengan luas 6,3 km2 diperluas menja­di 273,45 km2atau meningkat sebesar 43,4 kali dari sebe­lumnya. Perluasan ini menye­babkan Sawahlunto menjadi kota terluas kedua dan Paya­kumbuh turun men­jadi terluas ketiga di Sumatera Barat.

Dari segi jumlah pendu­duk, pada tahun 1970 Paya­kumbuh berada pada peringkat ketiga sesudah Padang dan Bukittinggi. Akan tetapi perbedaan jumlah penduduk Payakumbuh dengan Bukit­tinggi relatif kecil yaitu hanya 784 orang. Pada tahun 2009 atau 40 tahun kemudian, jumlah penduduk Payakumbuh meningkat pesat menjadi 106 726 jiwa. Akan tetapi masih tetap berada pada peringkat ketiga sesudah Bukittinggi dengan perbedaan jumlah 894 orang.

Walaupun demikian, pe­ning­katan jumlah penduduk ini meningkatkan status Kota Payakumbuh dari kota kecil (jumlah penduduk < 100 000 orang), menjadi kota mene­ngah (jumlah penduduk 100 000 -

Perluasan Kota Payakumbuh

Kalau gagasan perluasan Kota Payakumbuh ini dapat diterima, maka ke depan tersedia beberapa alternatif skenario perluasan. Salah satunya adalah, tiga keca­matan di Kabupaten Lima­ Puluh Kota diusulkan masuk ke Kota Payakumbuh yaitu: Payakumbuh, Situjuah Lima Nagari, dan Luak.

Ketiganya berbatasan langsung dengan Kota Paya­kumbuh. Jumlah penduduk ketiganya adalah 98.726 orang dengan luas wilayah 329,59 km2 sehingga jumlah pendu­duk Payakumbuh pascaper­luasan akan menjadi 205.637 orang dengan luas wilayah 410, 02 km2 (Pemda Kabu­paten 50 Kota dan Pemda Kota Payakumbuh data diolah).

Alasan Perluasan Kota Payakumbuh

Berdasarkan pengamatan, diskusi dan pembicaraan dengan berbagai fihak dan terutama pengalaman penulis selama 5 tahun sebagai Kepala Bappeda Kota Paya­kumbuh, penulis mencoba memformulasikan alasan perluasan Kota Payakumbuh sebagai berikut.

Pertama, aspirasi sebaha­gian masyarakat Kota Paya­kumbuh dan Kabupaten Lima­ Puluh Kota, khususnya yang ingin bergabung dengan Kota Payakumbuh. Perluasan kota akan mendorong kegiatan pembangunan (termasuk pe­ren­canaan pembangunan) menjadi semakin efisien dan efektif (large scale economies).

Sebelum lahirnya Kota Payakumbuh, Kecamatan Pa­ya­kumbuh (salah satu kecamatan di Kabupaten Lima Puluh Kota yang diusul­kan bergabung dengan Kota Payakumbuh), adalah satu kesatuan wilayah (sosial ekonomi, geografi, dan sebagainya) dengan Kota Payakumbuh, dan bah­kan menjadi pernah menjadi ibu kota Kecamatan Payakumbuh.

Alasan berikutnya adalah soal kebutuhan air bersih Kota Payakumbuh yang seba­ha­gian besar berasal dari Kecamatan Luak dan Situjuah Limo Nagari. Dengan menjadi satu kesatuan wilayah admi­nistratif, diharapkan mana­jemen air dan yang terkait dengannya lebih efisien dan efektif.

Tanpa penggabungan de­ngan Kota Payakumbuh, ke­tiga kecamatan yang diusul­kan bergabung dengan Kota Payakumbuh akan tetap me­nuju suasana urban, tetapi akan cenderung alamiah dan tidak/kurang teratur. Dengan masuk menjadi Kota Paya­kumbuh, pembangunannya, dapat direncanakan dan di­koor­dinasikan dengan lebih efisien dan efektif.

Pada saat ini koordinasi perencanaan dan pelaksa­naannya tidak berjalan opti­mal dan intensif sehingga manfaatnya juga tidak opti­mal. Bahkan banyak yang overlapping. Contohnya pasar ternak dan kolam renang yang dibangun dengan anggaran besar di kedua daerah.

Alasan lainnya, setelah hampir 40 tahun berdiri, Kota Payakumbuh telah berkem­bang dengan pesat sehingga memerlukan lahan yang semakin luas untuk mening­katkan fungsi dan peranannya sebagai pusat pertumbuhan (growth centre). Selain itu, visi kota berbeda dengan visi kabupaten. Oleh sebab itu, misi dan strategi pembangu­nannya juga harus berbeda.

Dalam era reformasi dan otonomi daerah sekarang ini, gagasan ini sangat mungkin direalisasikan dan prosesnya diharapkan lebih gampang. Apalagi, banyak diantara daerah-daerah yang diusulkan bergabung sekarang ini, apa­bila ada keperluan urusan ke kabupaten harus melintasi Kota Payakumbuh sehingga tidak efisien dibandingkan dengan bila daerah itu berga­bung dengan Kota Paya­kum­buh. Bila bergabung dengan Kota Payakumbuh, masya­rakat justru akan terlayani dengan lebih baik.

Alasan lainnya adalah untuk meningkatkan keseja­teraan masyarakat. Payakum­buh akan menjadi kota yang lebih besar dan modern. Ma­sya­rakatnya juga akan terla­yani dengan lebih baik. Misal­nya dalam hal pengadaan air bersih, jalan, pendidikan, kesehatan, lingkungan, pena­taan ruang dsb. Dengan skala wilayah yang lebih luas, Payakumbuh akan dapat ditata dengan lebih baik sehingga menjadi semakin menarik khususnya bagi para investor.

Investasi yang semakin besar akan mempercepat pertumbuhan ekonomi dan perluasan kesempatan kerja, bukan hanya bagi Kota Paya­kumbuh tetapi juga bagi Kabupaten Lima Puluh Kota dan Sumatera Barat pada umumnya. Perkembangan ini akan meningkatkan daya ungkit Kota Payakumbuh sebagai salah satu pusat pertumbuhan Sumatera Barat.

Namun, Kabupaten Lima­ Puluh Kota juga akan berkem­bang lebih pesat karena bisa lebih fokus dalam membangun wilayahnya, khususnya kepada kawasan-kawasan yang relatif tertinggal di kabupaten ini.

Demikianlah gagasan ini dikemukakan disertai harapan dapat menjadi perhatian kita bersama dalam rangka me­ning­katkan kesejahteraan masyarakat kita pada hari-hari mendatang. (*)

BACA JUGA :

No related posts.