DILAKUKAN BERTAHAP

Cegah Flu Burung, Ribuan Ayam di Batam Dimusnahkan

19 February 2013, 10:19
0 komentar | Dibaca: 524
Haluan Media : Situs Berita Terbaru & Aktual Padang , Riau dan Kepri | Cegah Flu Burung, Ribuan Ayam di Batam Dimusnahkan
Pemusnahan ayam (Foto: HaluanMedia.com)

BATAM CENTRE, HALUAN MEDIA – Sedikitnya dua ribuan ayam milik warga Kelurahan Air Raja Kecamatan Galang, dimusnahkan oleh Pemerintah Kota Batam, Senin (17/2). Pemusnahan itu terkait merebaknya virus flu burung H5N1 beberapa pekan terakhir.

Untuk mensterilisasikan kawasan itu, warga setempat diimbau untuk tidak beternak ayam selama setahun ke depan. Sebelumnya diketahui, sedikitnya 2070 ayam milik tiga Kelompok Usaha Bersama (KUB) dan warga di Air Raja sebulan belakangan ini mati mendadak dalam jangka waktu yang singkat. Selain di Air Raja, virus tersebut, juga menyerang 200 lebih ternak ayam buras milik warga di Temiang Kelurahan Tanjung Riau, Sekupang.

Dari keterangan peternak di Air Raja, ayam diketahui mati, awalnya pada Desember tahun lalu. Di mana, ayam milik warga yang diternak tiba-tiba mati mendadak dalam jumlah besar. Karena kejadian itu, awalnya para peternak tidak mengetahui penyebab kematiannya.

Peternak KUB pun melaporkan ke pemerintah melalui Dinas KP2K Kota Batam, dengan maksud meminta kompensasi atau ganti rugi, sebab ayam yang diternak KUB, merupakan bantuan dari Kementerian Sosial. Namun, setelah tim dari KP2K turun memeriksa, akhirnya diketahui penyebab kematian adalah virus flu burung.

Wakil Walikota Batam Rudi yang turun menyaksikan pemusnahan ayam tersebut mengatakan, dalam dua hari ke depan, dua ribuan ayam yang tersisa di Air Raja akan dimusnahkan. Ini dilakukan sebagai upaya antisipasi, agar penyakit tersebut tidak menular pada manusia.

“Pemusnahannya bertahap, hari ini, nati malam, besok. Pokoknya sampai habis semua. Mudah-mudahan dalam dua hari ini dua ribuan ayam selesai dimusnahkan,” kata Rudi.

Dijelaskan dia, setelah pemusnahan dilakukan, mudah-mudahan dalam dua minggu kedepan, masyarakat yang ayamnya dimusnahkan akan diberikan kompensasi. Untuk ayam ukuran besar, diberikan Rp 30 ribu per ekor. Ukuran kecil, Rp 20 ribu perekor. Kata Rudi, kompenasi tersebut diberikan bagi warga yang ayamnya dimusnahkan. Bukan, ayam yang memang sudah mati lebih dulu.

Katanya, semua data sudah ada. Selain, kompenasisi berupa uang, pada 2014, masyarakat yang ayamnya dimusnahkan juga akan mendapatkan bibit atau anak ayam untuk dipelihara kembali. Kenapa demikian, karena dalam rentang satu tahun kedepan, Air Raja akan sterilisasikan. Tidak ada masyarakat, yang beternak ayam lagi.

“Selama setahun ini, jangan sampai ada beternak. Sterilisasi semua tidak ada pemeliharaan. Kita berjanji kepada masyarakat, selain kompensasi, kita akan bantu juga dengan anak ayam, sesuai jumlah ayam yang dimusnahkan pada tahun depan,” jelas Rudi.

Dalam pemusnahan ayam tersebut, dilakukan dengan cara dikumpulkan dalam satu lubang besar, kemudian ayam dibakar. Sebelum dibakar, ayam tersebut sudah dipastikan mati, karena dimasukkan dalam karung yang berisi gas mematikan.

Kata Rudi, dengan pemusnahan ini, dipastikan tidak mengganggu perekonomian masyarakat. Sebab, beternak ayam di Air Raja merupakan pekerjaan sambilan masyarakat.

“Ini masih status normal. Pemusnahan ini pun tidak sampai menggangu perekonomian masyarakat. Sebab, beternak ini hanya pekerjaan sampingan. Kebanyakan nelayan dan petani. Sampingan aja. Saya aja beternak ayam,”kata Rudi.

Kepala KP2K Kota Batam, Suhartini mengatakan, selain di Air Raja, pihaknya menargetkan pemusnahan di Temiang paling lambat pekan depan. Sebab disana juga ditemukan ayam mati mendadak.

“Di Sei Temiang juga ada indikasi penyakit tersebut. Kami juga akan melakukan pemusnahan pada tempat tersebut. Setelah ini semua selesai, paling minggu depan lah” kata dia.

Suhartini mengimbau agar warga segera melapor jika diketahui ada ayam mati mendadak dalam jumlah besar agar untuk dilakukan pemusnahan. Jangan sampai merebak sampai kemanusia.

Salah seorang peternak Air Raja mengatakan, ayam kampung yang dipeliharanya jika dalam keadaan sehat, dapat dijual seharga Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram. Dalam setahun, pihaknya dapat menjual dua kali yang dijual ditengkulak berada di Punggur. Meski merasa keberatan dengan pemusnahan itu, ia dan warga lainya tidak bisa berbuat banyak. Katanya semua demi keselamatan.

“Kalau kita pelihara, enam bulan sudah bisa dijual. Setahun dua kalilah, kita jual di Punggur harganya mencapai Rp 50 ribu/kg,”jelasnya. (mnb)

BACA JUGA :