DITANGKAP SAAT LAKUKAN TRANSFER BBM

Kapal Pertamina Selundupkan BBM

31 January 2013, 09:03
0 komentar | Dibaca: 790
Haluan Media : Situs Berita Terbaru & Aktual Padang , Riau dan Kepri | Kapal Pertamina Selundupkan BBM
Kapal Pertamina yang ditangkap jajaran Direktorat Jenderal Bea Cukai Kepri di perairan Lobam (Foto: HaluanMedia.com)

KARIMUN, HALUAN MEDIA – Perairan Kepri masih rawan penyelundupan bahan bakar minyak (BBM). Buktinya, kapal tanker Liner Serena II milik PT Pertamina wilayah khusus Kepulauan Riau (Kepri) bermuatan solar subsidi sebanyak 3.680 matrik ton ditangkap jajaran Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kepri di perairan Lobam, Bintan, Senin (28/1).

Kapal tersebut ditangkap sekitar pukul 00.00 WIB saat sedang melakukan transfer BBM (kencing minyak) secara ilegal ke dua kapal, KM Cahaya dan satu kapal lainnya berhasil melarikan diri.

“Saat penangkapan itu, kapal tengah kecing minyak ke dua kapal lainnya. Namun, karena kondisi saat itu gelap gulita, maka satu kapal berhasil kabur. Sementara kapal yang satu lagi KM Cahaya berhasil kita amankan. Saat ini kedua kapal baik Serena II maupun KM Cahaya sudah dibawa ke Tanjungbalai Karimun,” kata

Kepala Bidang Penindakan Sarana Operasi (PSO) DJBC Kanwil Khusus Kepri Agus Wahyono usai peringatan Hari Kepabeanan Internasional ke-61 di Kantor Pelayanan Tipe Madya Pabean Tanjungbalai Karimun, Rabu (30/1).

Menurut Agus, tidak ada perlawanan yang dilakukan saat penangkapan kapal milik Pertamina yang berangkat dari Sambu menuju ke Pontianak tersebut.

Senada dengan itu Kabid Penyidikan dan Barang Bukti DJBC Kepri, Budi Santoso mengatakan pihaknya saat ini masih melakukan penelitian terkait kasus penangkapan kapal tersebut.

“Berdasarkan penelitian awal, belum ditemukan pelanggaran kepabeanan yang dilakukan oleh kapal Serena II karena kapal tersebut berlayar dari Sambu ke Pontianak. Kedua daerah itu merupakan wilayah Indonesia. Jadi kami melihat tidak ada pelanggaran kepabeanannya,” kata Budi.

Meski demikian kata Budi, pelanggaran yang jelas dilakukan oleh kapal milik PT Pertamina itu adalah pelanggaran UU Migas, karena melakukan tindakan jual-beli BBM solar bersubsidi, dan itu adalah tindakan ilegal.

Untuk kasus tersebut, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan pihak terkait yakni Mabes Polri dan Polairud Polda Kepri. “Informasinya, mereka segera menindaklanjuti kasus ini,” katanya.

Berapa kerugian negara yang ditimbulkan akibat pencurian BBM subsidi itu, Budi belum bisa menjelaskan. Ia mengaku hingga saat ini belum melakukan sonding berapa jumlah muatan yang diangkut secara keseluruhan dan berapa jumlah BBM yang telah ditransfer.

“Untuk mengetahui berapa kerugian negara, kami butuh waktu melakukan penyelidikan dulu. Sementara, terkait berapa jumlah BBM saat mengisi muatan dari Sambu, kami perlu minta keterangan dari petugas di Sambu. Yang namanya jumlah BBM itu tidak selalu pas karena ada indikasi penguapan,” jelasnya. (ham)

Kapal Sembako dan Ballpres

Selain kapal kencing BBM subsidi, Bea Cukai juga sedang melakukan penyelidikan terhadap dua kapal lainnya KLM Alamina Utama muatan sembako dan KM Citra Abadi muatan pakaian bekas yang ditangkap, Senin (29/1) lalu.

Budi Santoso mengatakan semua hasil tangkapan selama Januari 2013 ini pihaknya sudah menerbitkan surat perintah penelitian, khusus untuk KLM Alamina Jaya yang memuat sembako dari Singapura tujuan Batam.

“Kasus pelanggaran kapal yang membawa muatan sembako dari luar negeri ke Batam baru pertama kali terjadi, karena Batam merupakan kawasan FTZ yang artinya dibolehkan membawa barang secara bebas ke kawasan itu. Hanya saja, sebenarnya yang dibolehkan itu adalah barang untuk keperluan industri bukan sembako,” katanya.

Karena perlakuan Batam sebagai daerah Free Trade Zone (FTZ) tersebut, kata Budi, maka pihaknya harus melakukan penelitian mendalam terlebih dahulu. Namun, untuk menghindari penyalahgunaan barang tanpa izin ini maka pihaknya berkewajiban mengamankan kapal beserta muatannya ke Kanwil DJBC Khusus Kepri.

Sementara untuk KM Citra Abadi yang memuat baju bekas dalam karung, sudah jelas memiliki unsur pidana yang sangat kuat, karena tidak ada satu izinpun yang membenarkan membawa barang tersebut dari luar negeri ke Indonesia. “Muatan pakaian bekas diatas kapal KM Citra Abadi 100 persen saya nyatakan ilegal,” ungkapnya lagi.

Hanya saja, katanya, awak kapal KM Citra Abadi sempat melompat ke laut dan melarikan diri. “Nah, dari sini saja sudah kelihatan kalau mereka jelas-jelas bersalah. Namun, kami tetap membawa kapal dan muatannya sebagai barang bukti, meski tak ada pelakunya diatas kapal,” jelas Budi. (ham)

BACA JUGA :