ALFAMART DAN INDOMARET

YLKI Nilai Bentuk Monopoli Perdagangan

13 February 2013, 15:34
0 komentar | Dibaca: 606
monopoli perdagangan
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia

PEKANBARU, HALUAN MEDIA – Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Riau, Sukardi Alizahar menilai, Alfamart dan Indomaret diduga melakukan praktik monopoli dagang di Pekanbaru.

Pasalnya, selain mendirikan gerai di seluruh penjuru kota, harga yang ditawarkan juga umumnya lebih murah dari harga yang ditawarkan pedagang lain. Tindakan seperti itu, tambahnya, sama saja dengan mematikan pedagang kecil.

“Memang di satu sisi konsumen diuntungkan. Akan tetapi di sisi lain pedagang kecil dirugikan, karena harga yang dijual lebih murah daripada pedagang kecil, sehingga apa yang dilakukan Alfamart dan Indomaret sama saja dengan praktik monopoli,” ujarnya, Selasa (12/2).

Selain itu, terungkapnya dugaan tentang belum lengkapnya izin dua perusahaan ritel itu, akan menambah luka di hati pedagang kecil di Kota Pekanbaru. Sebab ketika pedagang kecil berjualan, mereka harus dihadap-hadapkan dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

YLKI Sementara, Alfamart dan Indomaret dengan leluasa menggelar dagangannya. “Kalau perijznannya tak lengkap, maka sebaiknya ditutup saja,” kata Ketua YLKI Riau. Atau alternatif lainnya, usul Ir Sukardi, Alfamart dan Indomaret cukup menjadi agen atau distributor di Riau, sehingga pedagang kecil tidak menjerit.

Pemko Harus Buat Perda Sementara itu, pengamat perekomonian Perkotaan, B Isyandi mengatakan, untuk kekhawatiran masyarakat terutama pedagang kecil yang takut usaha mereka mati dan kalah saing dengan dua ritel tersebut, Pemko Pekanbaru harus membuat Perda yang mengatur keberadaan keberadaan Indomaret dan alfamart tersebut.”Misalnya, mereka tidak boleh membuka gerai didekat pusat-pusat perbelanjaan dengan jarak sekian meter, atau standar harga harus lebih tinggi dan sebagainya,” terangnya.

Di sisi lain, Ketika Haluan Riau mencaba mengkomfirmasi tim pemantauan harga pada kedua ritel tersebut di Dinas perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) melalui Kepala Bidang perdagangan, Adalius mengatakan bahwa hingga saat ini tim untuk melakukan monitoring khusus masih belum dibentuk, namun pihaknya akan melakukan hal tersebut hal itu untuk menjaga dan mengantisipasi kekhawatiran pedagang kecil tersebut.

Hal yang sama diungkapkan Kasi Disperindag, Megah Mko yang selalu melakukan monitoring harga sembako di pasar tradisinal. Dikatakan, hingga saat ini bentuk persaingan harga antara Indomaret dan Alfamart dengan pedagang belum terlihat begitu signifikan. Pasalnya setelah melakukan monitoriing harga secara pantauan bisa Indomaret ataupun Alfamart menggunakan sistem ekonomi silang.

“Yang artinya boleh jadi di pasaran harga ini tinggi tapi di tempat mereka harganya sedikit murah karena ditunjang oleh promo dan diskon, sehingga saya rasa mereka itu menangnya hanya pada produk-produk tertentu saja,” paparnya.

Disingung mengenai kapan Tim monitoring harga tersebut akan dibuat, Megah Miko atapun Adalius mengatakan bahwa itu bisa saja dibuat, namun pihaknya masih menunggu menunggu arahan dari Walikota. (war/dan)

BACA JUGA :