Esensi Tugu Simpang Tinju

24 December 2012, 10:05
0 komentar | Dibaca: 1,033
Tugu Simpang Tinju yang berada di persimpangan Jalan Gajah Mada dan Jalan Jhoni Anwar Padang (Foto/HaluanMedia.com)

HALUAN MEDIA , PADANG – Siapa warga Kota Padang yang tak kenal dengan tugu simpang tinju? Sebagian besar pasti tahu dengan tugu ini. Tapi tentu sangat terbatas orang yang tahu, bahwa tugu kepalan tinju yang terletak persimpangan Jalan Gajah Mada dan Jalan Jhoni Anwar Kelurahan Kampung Olo Kecamatan Nanggalo Padang itu bernama monumen Bagindo Aziz Chan.

Sejak diresmikan oleh Walikota Padang Syahrul Ujud pada 19 Juli 1983 monumen Bagindo Aziz Chan tetap berdiri kokoh hingga kini. Monumen Bagindo Aziz Chan dibangun dengan bentuk yang cukup unik, berbentuk kepalan tinju. Kepalan tinju  tersebut berdiri di atas bangunan segitiga mirip bambu runcing. Pada ketiga sisinya terdapat tulisan yang bila didekati dapat terbaca dengan jelas.

Pada dinding monumen ini tertulis, “Di sini Bagindo Aziz Chan Gugur saat menjabat Walikota Padang 17 Juli 1947”. Pada sisinya yang lain, tertulis “Bulatkan Tekad Dalam Perjuangan Walikota Padang Bagindo Aziz Chan”.

Banyak makna yang terkandung dalam kepalan tangan tersebut. Ada yang mengatakan, kepalan tersebut merupakan gambaran semangat seorang Bagindo Aziz Chan menen­tang kezaliman Belanda yang ketika itu menduduki Kota Padang.

Ketua III Dewan Harian Daerah (DHD) Angkatan 45 Provinsi Sum­bar Zulwadi Dt Bagindo Kali mengatakan, Monumen Bagindo Aziz Chan adalah simbol kegigihan seorang pahlawan nasional dalam mempertahankan daerah teritorial Kota Padang dari upaya perluasan yang dilakukan Belanda.

Menurutnya, Walikota Padang pertama Bagindo Aziz Chan diya­kini gugur persis pada tempat berdirinya monument tersebut. Bagindo Aziz Chan gugur keti­ka hendak berangkat ke Padang Panjang dari kediamannya di Jalan Permindo Padang. Dalam perjalanan mobil Bagindo Aziz Chan dihentikan serdadu Belanda.

Ketika mobil dihentikan, ser­dadu Belanda mengatakan kepada Bagindo Aziz Chan, bahwa  pasukan yang dipimpinnya melanggar per­j­an­jian Linggar Jati dengan mema­suki wilayah kekuasaan Belanda tanpa izin. Mendengar perkataan tersebut, Bagindo Aziz Chan turun dari mobil,  hendak meninjau batas teritorial yang dilanggar oleh pasukannya. Namun, semua itu hanya tipu muslihat serdadu Belanda. Tepat berada pada lokasi monumen saat ini, Bagindo Aziz Chan disambut rentetan tembakan hingga wafat.

“Ia merupakan sosok yang sa­ngat berani.  Dalam suatu siaran pers ketika diangkat sebagai Walikota ia sempat mengatakan, saya telah diangkat memangku jabatan Walikota Padang. Hal ini saya terima dan saya sambut dengan “Allahu Akbar” atas keper­cayaan pemerintah pusat yang telah mempercayakan Kota Padang kepada saya. Hanya Allah yang lebih mengetahui betapa hebat dan gentingnya keadaan, dan saya sungguh akan mempertahankan setiap  jengkal tanah Kota Padang,” kata Zulwadi Dt Bagindo Kali mengisahkan Bagindo Aziz Chan.

Monumen Yang Terlupakan

Walaupun berdiri pada daerah yang cukup strategis, tidak banyak masyarakat yang benar-benar mengenal monumen Bagindo Aziz Chan. Masyarakat labih fasih dan akrab dengan simpang tinju, atau simpang extrajoss.

Rani misalnya, ia merupakan salah seorang warga yang sudah cukup lama tinggal tidak jauh dari monumen tersebut. Rani mengaku tidak mengetahui bahwa tunggu yang berbentuk tinju tersebut adalah Monumen Bagindo Aziz Chan. Ia hanya tahu bahwa persim­pangan tersebut, bernama simpang tinju.

“Saya tidak mengetahui bahwa tugu yang berbentuk tinju itu adalah monumen Bagindo Aziz Chan. Baru kali ini saya men­dengarnya. Padahal saya tinggal di daerah ini sudah cukup lama,” katanya.

Tidak jauh berbeda dengan Rani, beberapa orang anak yang berse­kolah tidak jauh dari Monumen Bagindo Aziz Chan juga tidak mengetahui sejarah tugu tersebut. Salah satunya Nana, ia mengaku tinggal di Siteba. Hampir Setiap hari melewati tugu berbentuk kepalan tinju tersebut. Namun, Nana tidak mengetahui jika tugu tersebut adalah Monumen Bagindo Aziz Chan.

Zulwadi Dt Bagindo Kali mem­benarkan hal tersebut, monumen ini makin terlupakan. Banyak anak sekolah, masyarakat, bahkan seorang guru tidak mengetahui bahwa bangunan tersebut adalah sebuah monumen dari seorang pahlawan nasional Bagindo Aziz Chan.

“ Sebenarnya fenomena ini cukup memprihatinkan. Masyrakat latah menyebut simpang atau tugu tinju, hingga menghilangkan arti yang sebenarnya. Selain itu, kurangnya rasa keingintahuan juga mem­pengaruhi. Sumatera Barat sangat kaya dengan sejarah dan tokoh-tokohnya. Mari kita mengenal Sumbar lebih dekat dengan banyak membaca dan bertanya,” jelas­nya. Rahmat Hidayat/erz

BACA JUGA :